Skip to main content

Rumah Ilmu

Sebelumnya terima kasih Ustadzah Emi, yang telah beri kesempatan buat aku untuk diamanahi mengajar les kelas klasikal. Genap dua bulan mengajar aku di rumah ilmu, sebetulnya ini bukan kali pertamaku untuk mengajar kelas klasikal, aku sudah mencobanya sejak tahun lalu di rumah ku sendiri. Kelas klasikal di rumah ilmu beda dengan kelas klasikal sendiri milikku, anaknya lebih banyak dan beragam. Banyak belajar dan mungkin aku akan terus belajar banyak lagi kedepannya, menghadapi anak-anak tentu bukan perkara yang mudah, ada satu pelajaran berharga yang aku dapat dari Rumah Ilmu, sebelum pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti, berhenti bukan berarti tidak ingin mengajar lagi kedepannya, tentu tidak. Keluar dari suatu tempat apa lagi sudah kenal dekat dengan murid-murid merupakan kesedihan tersendiri, kalau kalian jadi guru pasti merasakannya aku yakin, bahkan dalam case berbeda pun meninggalkan suatu hal yang kita suka pasti akan terasa beda. Teruntuk Azra, terima kasih sudah ngasih tahu ustadzah Irene yang masih terus belajar ini, untuk berhati-hati dalam bertutur kata atau memilih candaan yang pas. Sekitar 20 anak yang berada di Rumah ilmu, aku bertemu mereka seminggu 2 kali, tentunya baru beberapa kali tatap muka aku tidak langsung dapat mengingat nama dari mereka. Ditengah pelajaran seperti biasa ada interaksi diantara kami, aku betul-betul lupa nama Azra pada saat itu, dan yak memang salahku aku berniat bergurau bersamanya dengan memanggilnya dengan nama Sugeng. Awalnya Azra masih terima dan tertawa mendengarku memanggilnya dengan nama Sugeng, tapi ternyata aku telah melakukan kesalahan dengan memanggilnya bukan dengan nama aslinya lagi, wajar Azra marah padaku hingga emosinya tak terbendung sampai menangis. Pada waktu itu jelas aku langsung meminta maaf atas perbuatanku, memang dia sudah memaafkan ku tapi aku yakin ada sedikit rasa jengkel terhadapku, aku maklum dan menyadari kesalahanku. Aku terus berusaha agar dia tak sakit hati lagi. Nyatanya agak berlangsung sedikit lama untuk membaik lagi keadaannya. Setiap masuk kelas, aku berusaha menghafal nama anak dari ujung hingga keujung, rasa gemetar dan takut dalam memilih perkataan pun selalu muncul selama mengajar disana. Dari Azra aku belajar, aku belajar bahwa yang awalnya lupa dan berusaha menghibur ternyata malah melukainya, aku belajar untuk memilah kata lagi, aku belajar untuk mengakui kesalahanku. Hal yang kita anggap biasa, mungkin tidak bagi orang lain. Mungkin kalau Azra baca ini dan teringat lagi akan kejadian waktu itu, Ustadzah minta maaf ya, pada waktu itu memang ucapanku keterlaluan untuk mengganti namanya, tapi tidak ada sedikitpun untuk maksud niat yang lain.. Rumah Ilmu berisi anak-anak yang hebat, penuh semangat, dan baik hati. Terima kasih Javier yang selalu sweet ke Ustdzh Irene, walaupun gabisa diem, tapi diem-diem suka kasih jelly, lotus ke tempat pensil Ustdzah.. dannn, makasih juga untuk queenara yang selalu ngegambar setiap outfit yg Ustdzah pake. It means a lot to me.. Makasih zizi yang selalu mengapresiasi setiap Ustadzah beri game selalu excited dan minta terus, dan tentu yang lainnya juga berkesan di hatiku... Aku bakalan merindukan mereka, dan semoga kita dapat bertemu dilain kesempatan. Aku memutuskan untuk tidak mengajar karena waktu dan tenaga yang terbatas, akhir-akhir ini aku merasa terlalu ngepush diriku, sampai aku sadar kalau space for take a rest is needed. Aku tulis perjuanganku disini, setelah dhuhur aku jalan kaki untuk bisa sampai ke rumah ilmu, tidak jauh tapi ya lumayan hehehe, aku jalan karna pada waktu itu memang belum memiliki motor. Payung biru yang selalu meneduhkan aku dari panas matahari serta selalu mensugesti diri "lagi jalan kaki di Eropa" supaya aku ga mengeluh dengan panasnya Surabaya :D Mungkin page kali ini bisa mengajarkan kalian satu hal penting, jangan pernah takut mengakui kesalahan dan put yourself first, kerja boleh tapi setiap badan punya limitnya jangan sampe hustling tapi mengorbankan diri sendiri ya, jangan lupa ambil baiknya buang buruknya.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Surat Untuk Mama

Jakarta, 26 Desember 1975. tempat, tanggal, bulan dan tahun istimewa bagi parempuan manisku bergigi gingsul dan berlesung dipipi kanannya. Lahir sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, kata bude dan tante, mama anak yang paling disayang bukan berarti tidak sayang dengan yang lain hanya saja mama lah yang paling penurut. Mama adalah sosok yang supel, temannya banyak dan beragam padahal banyak yang bilang mama punya wajah yang jutek banget! tapi jangan salah kalau sudah kenal asiknya ga ketulungan. Pernah melanjutkan sekolah di Universitas Borobudur Jakarta D3 akademi akuntansi. Setauku dari cerita yang selalu dapat dari mama setelah menikah mama mengikuti papa untuk tinggal di Surabaya, mama kerja sebagai akuntan di salah satu kantor. Pada tahun 1999, tepatnya bulan Juni tanggal 1 lahirlah aku, anak perempuan pertama, cucu pertama, cicit pertama, dan juga canggah pertama dikeluarga mama. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya mama dan papa pada saat itu telah memilikiku, ...

Covid-19

Nostalgia dikit boleh ya, sekitar tahun 2012 aku aktif di sosial media mulai dari facebook, twitter, instagram rasanya belum, punya blog ini juga belum. Bahkan aku inget banget di usia ku yang masih belasan tahun itu ga seberapa seneng yang namanya membaca, mungkin kalau ada sesuatu hal yang aku gatau, aku bakalan langsung nanya ke mama. Jadi bisa dibilang segala sumber informasiku itu mama hehehe.. Balik lagi ke soal sosial media yang aku gunain, I only used it for entertainment. Masih gatau tuh caranya nemuin konten-konten positif di fb, mungkin emang masih jarang yang ngebikin konten yang berbobot. Apalagi YouTube malah jarang banget diakses. Twitter juga gitu cuman buat having fun mentionin temen-temen, belum tahu yang namanya trend topics for checking what’s happening now in Indonesia or even the world. Seiring bertambahnya usiaku ditambah dengan kecanggihan Era 4.0, semua informasi mudah di dapat. Aku gamau buta lagi tentang apa yang lagi terjadi saat ini. Satu bulan bel...

The Kiddos are Cheering Me A Lot

      1 Juni yang lalu, tepat 21 tahun aku hidup di dunia, dua puluh satu tahun dibesarkan, dikasih makan, disekolahkan, dua puluh satu tahun yang amat berkesan, dua puluh satu tahun bertemu dan mengenal dengan banyak macam orang, suka duka sudah pernah mampir dihidupku, tak jarang perasaan kusut sering tinggal didiri ini. Sebenernya sejak berusia 16 tahun aku mencoba untuk memenuhi keinginanku dengan uangku sendiri, eitss keinginan lho bukan kebutuhan :p tandanya aku masih diberi makan gratis, tempat tinggal gratis, kuliah gratis dibiyai sama orang tua hehehe jadi belom mandiri-mandiri amat ya, sekadar membeli hape dan skincare pake duit sendiri. Tapi rasanya aku mulai bisa menyisihkan sebagian rezeki ku untuk membantu keperluan adekku, seperti membeli buku-buku paket sekolahnya, sepotong seragam, dan bayar wifi sendiri. Menurutku itu sebuah satu kenaikan pencapaian diumurku yang sudah gapantes untuk merengek-rengek minta hal gapenting, bahkan aku sudah memikirkan u...